Sebuah Tanya
Akhirnya semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku.
(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, kenbah Mandalawangi.
kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu
ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat.
(lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tau dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta
(haripun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram
wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
dalam bahasa yang tidak kita mengerti
seperti kabut pagi itu)
manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan
dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru.
Soe Hok Gie
Selasa, 1 April 1969
Mari Menulis Sasta!!!
Laman ini dibuat untuk berbagi bersama penikmat sastra. Mari meningkatkan kembali ranah sastra Indonesia yang sudah mulai meredup ini. Bagi Anda yang ingin berpartisipasi, silakan kirim naskah sastra Anda ke; aamovi05@gmail.com dan pastikan tulisan sastra Anda ada di blog ini.
salam sastra Indonesia
salam sastra Indonesia
Showing posts with label puisi gie. Show all posts
Showing posts with label puisi gie. Show all posts
Monday, February 15, 2010
Puisi Soe Hok Gie
Mandalawangi – Pangrango
Senja itu ketika matahari turun kedalam jurang-jurangmu
Aku datang kembali
Kedalam ribaanmu dalam sepimu dan dalam dinginmu.
Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku.
Aku cinta padamu Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta.
Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan berbicara padaku tentang kehampaan semua.
Hidup adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar
Terimalah dan hadapilah.
Dan diantara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
Aku terima itu semua melampaui batas-batas hutanmu melampaui batas-batas
jurangmu.
Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup.
19/7/1966
Soe Hok Gie
Senja itu ketika matahari turun kedalam jurang-jurangmu
Aku datang kembali
Kedalam ribaanmu dalam sepimu dan dalam dinginmu.
Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku.
Aku cinta padamu Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta.
Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan berbicara padaku tentang kehampaan semua.
Hidup adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar
Terimalah dan hadapilah.
Dan diantara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
Aku terima itu semua melampaui batas-batas hutanmu melampaui batas-batas
jurangmu.
Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup.
19/7/1966
Soe Hok Gie
Subscribe to:
Posts (Atom)