Siapa yang tidak bangga jika cerpennya dimuat di majalah Kawanku, Gadis, Hai, atau mungkin di surat kabar Kedaulatan Rakyat, Kompas? Kiranya tidak ada yang tidak senang. Ada beberapa keuntungan yang diperoleh mulai dari diberi ucapan selamat dari teman-temannya, diberi predikat baru sebagai “sastrawan”, mendapat honorarium, dan mungkin guru Bahasa Indonesianya memberikan “bonus” nilai.
Kemampuan menulis karya sastra pada satu sisi diyakini sebagai sebuah bakat yang nota bene dibawa seseorang sejak lahir, namun pada sisi lain diyakini sebagai sebuah hasil belajar. Dari berbagai sharing pengalaman dari orang-orang yang sudah menghasilkan karya sastra, sebagian besar di antaranya mengatakan bahwa kemampuan mereka lebih banyak ditentukan oleh latihan, latihan, dan latihan. Kalau dibuat perbandingan, factor bakat hanya memberikan kontribusi 10-15%, sedangkan selebihnya adalah factor belajar dan latihan. Tuntutan yang diberikan oleh kurikulum untuk siswa SMA sebenarnya tidak terlalu tinggi. Namun, tidak ada salahnya jika kemampuan menulis cerpen yang akan dipelajari ini dapat memberikan bekal hidup di kelak kemudian hari. Artinya, siapa tahu dengan sungguh-sungguh belajar menulis cerpen, ketika menempuh pendidikan di perguruan tinggi, para siswi dapat ”nyambi” mencari uang saku melalui cerpen. Di sela-sela kuliah mereka dapat menghasilkan cerpen yang kemudian dikirim ke media massa, dan kalau dimuat akan mendapat uang saku. Dengan demikian, generasi muda ini tidak seratur persen bergantung pada orangtua mereka. Dengan kemandirian finansial seperti itu proses hidup sebagai ”parasit” bagi orang lain dapat sesegera mungkin diakhiri.
BEBERAPA HAL KUNCI DALAM MENULIS CERPEN
Peristiwa, Tokoh, Konflik
Narasi adalah cerita. Cerita didasarkan pada urutan kejadian atau peristiwa. Dalam kejadian-kejadian tersebut terdapat tokoh. Tokoh-tokoh tersebut menghadapi serangkaian konflik atau pertikaian. Tiga hal tersebutlah (urutan peristiwa, tokoh, dan konflik) yang merupakan unsur pokok sebuh narasi.
Kesatuan dari urutan peristiwa, tokoh, dan konflik itulah yang sering disebut alur atau plot. arasi bisa berupa fakta, bisa pula berupa fiksi atau rekaan. Narasi yang berisi fakta antara lain biografi (riwayat hidup seseorang), otobiografi (riwayat hidup seseorang yang ditulisnya sendiri. Narasi yang berisi fiksi atau rekaan antara lain novel, cerita pendek, cerita bersambung, atau cerita bergambar. Plot atau alur dalam sebua narasi dapat berupa alur tunggal, dapat pula terdiri dari alur utama dan beberapa buah alur tambahan atau sub-plot.
Latar dan Warna
Alur cerita (kejadian, konflik, dan tokoh) tentu saja tidak terjadi dari kekosongan (vacuum). Pasti peristira tersebut terjadi pada waktu tertentu dan di tempat tertentu. Maka alur terikat pada latar waktu dan latar tempat. Latar tempat dan latar waktu membutuhkan kekhususan dan ketajaman deskripsi yang menunjukkan pada pembaca bahwa waktu dan tempat kejadian tersebut benar-bena khas sehingga cerita tidak daat dipindahkan secara sembarangan karena kekhasan tersebut memberikan nilai tertentu. Inilah yang disebut sebagai warna lokal dalam cerita. Warna lokal ini diciptakan dengan memberikan deskripsi yang teliti tentang lokasi, benda-benda, tokoh-tokoh serta kebiasaan-kebiasaan setempat, dialog tokoh-tokohnya yang mengandung dialek-dialek tertentu
Kerangka (Kisi-kisi Alur)
Kerangka atau kisi-kisi alur sangat penting untuk dibuat sebelum kita menulis cerpen. Kisi-kisi alur ini digunakan untk menjaga agar dalam cerita yang akan kita buat tidak terjadi anakronisme, yaitu peristiwa yang salah waktu dan tempatnya. Di samping itu, kisi-kisi ini juga berguna untuk mempertahankan cerita agar dalam pengembangannya cerita tetap terfokus pada konflik yang direncanakan, tidak melantur ke mana-mana. Posisi ”Kita”Dalam sebuah narase tentu saja ada yang bercerita, yang menceritakan kepada kita apa saja yang terjadi. De fakto yang bercerita adalah penulis cerita itu. Penulis cerita dalam bercerita dapat mengambil posisi sebagai orang di luar cerita yang menceritakan segala sesuatu yang dilihat dan didengarnya. Atau, bisa pula penulis mengambil posisi seolah-olah ia berada di dalam cerita tersebut. Ia ikut menjadi salahsatu tokoh dalam cerita yang dibuatnya itu.Pengambilan posisi diri ini sangat mempengaruhi cerita yang akan dibuatnya. Maka, diperlukan pertimbangan matang untuk memilih gaya pertama, atau gaya kedua sehingga nantinya terdapat konsistensi dalam bercerita.
Percakapan (Dialog)
Sebenarnya tidak ada aturan baku yang mengatur seberapa besar porsi dialog dalam sebuah cerita. Artinya, boleh saja sebuah cerpen sejak awal sampai akhir isinya dialog antartokoh. Porsi deskripsi latar dan peristiwanya dibuat seminimal mungkin. Namun, boleh juga sebuah cerpen hanya terdiri dari deskripsi semua, tidak ada dialog sama sekali.Hanya, rasa-rasanya akan menjadi cerpen yang tidak enak dibaca ketika tidak terdapat keseimbangan antara dialog dan deskripsi latar.
LATIHAN MENULIS CERPEN
Latihan Menciptakan Tokoh
Saya ingin menciptakan sebuah cerpen yang menggambarkan pertentangan budaya antara budaya Batak, budaya Bali, dan budaya Jawa.
Buatlah nama-nama tokoh (minimal 2 tokoh sentral, ada tokoh andalan, dan ada beberapa tokoh lain) beserta penjelasan mengenai latar belakang kehidupan dan perwatakannya.
Buatlah rencana tempat kejadian dari cerita yang akan Anda buat beserta waktunya!
Buatlah pokok-pokok kejadian yang menggambarkan perkembangan konflik dari cerita yang akan Anda buat!
Mari Menulis Sasta!!!
Laman ini dibuat untuk berbagi bersama penikmat sastra. Mari meningkatkan kembali ranah sastra Indonesia yang sudah mulai meredup ini. Bagi Anda yang ingin berpartisipasi, silakan kirim naskah sastra Anda ke; aamovi05@gmail.com dan pastikan tulisan sastra Anda ada di blog ini.
salam sastra Indonesia
salam sastra Indonesia
Showing posts with label tulisan sastra. Show all posts
Showing posts with label tulisan sastra. Show all posts
Wednesday, February 24, 2010
Wednesday, February 17, 2010
“Bukan aku yang membunuh bapakmu. Tapi dia datang ke sini untuk mati!”
Suara itu masih ada di sini. Itu suaramu, emak. Jelas sekali aku mendengar itu keluar dari mulutmu. Kata-kata itu hinggap dalam ingatanku. Aku tak akan pernah mungkin melupakanya.
Sebelumnya, aku mendengar bapak berteriak keras sekali. Teriakan yang keluar memenuhi ruang hampa kamarku. Rumah yang sebelumnya sunyi, sekejap menjadi bising oleh keramaian orang-orang melayat. Mereka ingin melihat jenzah bapakku yang kau bunuh, emak. Aku sangka demikian. Hanya kau yang ada dalam ruangan itu. Sesaat setelah kalian bertengkar hebat. Tiba-tiba bapak berteriak dengan keras sekali. Bapak mati!
Dengan nafas beringas, kau keluar dari kamari itu. Wajahmu terlihat pucat basi. Seperti menyimpan ketakutan yang maha besar. Tapi kau tidak berbicara sedikitpun. Aku melihat raut wajah yang tidak mengenakkan. Aku terjebak di sana. Keringat yang sedikit-sedikit mengalir dari dalam rambutmu menenggalamkanku dalam satu cerita tentang pembunuhan yang kau susun rapi demikian.
***
Malam itu, bulan setengah mati. Aku dan bapak sedang asyik bercerita tentang nama-nama kampung di sini. Bapak suka menerka yang bukan-bukan. Ia ceritakan tentang sejarah nama-nama kampung. Tapi, semuanya tak ada yang benar. Kurasakan seperti itu. Aku dibikinnya tertawa lepas. Bapak orang yang sangat lucu. Ketika ia bercerita, wajahnya terlihat serius sekali. Sampai-sampai aku pernah yakin ketika dia bilang bisa berjalan di atas air. Tapi, setelah dia tertawa, akupun tak percaya kalau orang-orang bisa berjalan di atas air. Bapak juga demikian, dia tak percaya. Hanya saja, dia mau bercerita banyak agar aku tidak teringat pada emak yang selalu tak sempat menemani kami bercerita.
Kau ingat, emak. Saat itu kau pulang larut malam sekali. Bapak menyimpan marah dalam hatinya. Ia tak mau menyerangmu dengan pertanyaan-pertanyaan yang kau anggap konyol itu. Bapak begitu mencintai kedamaian. Dia tidak pernah berharap untuk membikin rumah bising dengan teriakan-teriakan yang tak berguna itu. Tapi, kenapa kau tak pernah sadar. Kenapa kau selalu bikin bapak menyimpan dendam. Bukankah dengan cinta aku bisa kau lahirkan?
Saat itu, aku langsung pergi ke kamarku. Menyendiri dan menjauh dari mangsa beringasmu. Aku begitu takut karena kau pulang dengan wangi tak sedap. Aroma alkohol ada di mana-mana. Bau yang keluar dari mulutmu hinggap di ruang tamu rumah kita, di asbak rokok, di sofa dan tempat kau campakkan baju yang kau gunakan untuk menutupi tubuhmu yang mungil itu. Tubuh yang telah kau jual dengan harga yang bisa di tawar.
Seberapa paham kau dengan kegundahan yang dirasakan bapak? Hingga kau tak pernah mengenal caranya berbicara. Kau selalu membenarkan diri, emak. Kau tipu kami dengan kedok bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Aku tak pernah menyalahkan bapak yang tak pernah memilki pekerjaan yang tetap. Tapi, betapa indahnya senyum bapak ketika pulang ke rumah meski hanya membawakan segenggam beras untuk dimasak.
Tapi, tidak dengan kau. Kau pergi ketika matahari sedang diusir malam. Tak kau hiraukan suara tilawah yang dikumandangkan dari surau tepat di depan rumah kita. Bahkan aku lihat kau mengacuhkan saran bapak agar kau pergi setelah langit tampak gelap. Sialan, kau bilang kau malas mencium bau bapak yang tak sedap itu.
Siapa sangka bibir tipismu itu telah menjadi racun bagi bapak. Emak, kau tutupi rupa aslimu dengan bedak dan perias lainnya. Kau tampak cantik sekali ketika malam hari. Tapi, sayang sekali, aku tak pernah melihat kecantikan itu kau peruntukan bagi bapakku yang malang. Dengan sengaja kau rias diri untuk mereka yang bajingan itu. Mereka yang selalu menikmati setiap keindahan yang kau miliki.
Sebelum kau pulang, bapak selalu menyempatkan diri duduk di teras. Dia menunggu kepulanganmu. Kadang-kadang, aku menemani kesendiriannya. Biasanya bapak mau jika aku temani. Bahkan, ia akan menceritakan tentang kisah cinta yang kalian alami semasa remaja. Bapak tak pernah malu menyimpan rahasia padaku. Meski kadang raut wajah merah jelas dia tampakkan padaku. Tapi, aku setia mendengar cerita-cerita itu. Ia begitu bersemangat sampai-sampai aku dibikin tidur dalam pangkuannya. Dan, ketika pagi menjelang, kau tak kunjung pulang. Bapak begitu gelisah. Kau tak pernah merasakannya, bukan?
Bapak tak bisa menghubungimu. Telepon genggammu mati. Dia menyuruhku untuk bergegas pergi ke sekolah. Sedang dia menunggu kepulanganmu. Aku pun menuruti kemauannya. Aku tak ingin membuat dia sedih seperti yang telah kau lakukan padanya. Tidakkah kau membayangkan betapa sudah keringnya air mata bapak. Dia selalu mencintamu, emak. Selalu. Aku tahu dia tak akan pernah menjadikan emak sebagai musuh apalagi untuk diburu dan dibunuh. Tapi, mengapa kau tak pernah sadar akan cintanya, emak?
***
Aku ingat sekali kata bapak tentangmu. “Cintailah emak mu, Agam. Kau akan merasakan hal yang paling bahagia di sana. Meskipun dia tidak pernah sadar akan cinta yang telah kita tampakkan. Tapi, kita harus yakin pada cinta kita agar suatu hari emak tahu bahwa kita begitu mencintanya.” serupa itulah kata bapak untukku. Dia selalu menginginkan aku mencintai dan menyayangi emak.
Waktu kau pulang ke rumah, malam itu. Aku mengintip dari lubang pintu yan kubuat. Aku mendengar perkataan ayah untukmu. Semuanya kudengar dan masih kuingat sampai sekarang. Saat itu, bapak menasehatimu agar lebih memperhatikan keluarga kita. Tapi, kau menyangkalnya. Kau menyalahkan bapak yang tidak memiliki perkerjaan tetap sepertimu. Kau mengatakan bapak seorang pemalas. Dia marah bukan. Aku melihatnya, emak. Tapi, rupa marah bapak itu tidak benar. Dia hanya ingin meyakinkan agar kau tak lagi bekerja seperti itu. Dia ingin kau lebih sering di rumah ketimbang harus bergaul dengan malam yang aneh itu. Kau kembali menyalahkan bapak. Katamu, bapak itu seorang yang tak berguna karena tak bisa memberikan apa yang kau minta.
Aku melihat bapak menarik kau ke dalam kamar. Kalian bertengkar hebat sekali. Aku tak tahu persisnya kenapa. Yang kudengar kalian seling berteriak dan tidak mau mengalah. Kau terlalu keras untuk dinasehati. Sedang bapak, terus berusaha membuatmu bisa mematuhi apa yang menjadi keinginannya.
Tiba-tiba bapak berteriak keras sekali. Setelah itu, semua menjadi diam. Aku takut dan gelisah. Aku mencoba mendekati kamar kalian agar bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, aku tak berani melakukannya. Aku takut kau dan bapak marah padaku. Maka aku putuskan untuk diam diri sembari menunggu kau dan bapak keluar dari kamar.
Lama sudah tak ku dengar suara bapak. Kau pun demikian. Diam, tanpa suara apapun di sana. Aku semakin gelisah. Hatiku merasa sangat ketakutan sekali. Ada yang aneh di sana. Aku pun memutuskan untuk keluar dari kamarku dan mendorong pintu kamar kalian. Aku begitu terkejut dan sepertinya tak bisa kupercaya. Kau memegang pisau yang tertancap di dada bapak. Darah bapak membalut baju dan tubuhmu. Kau pembunuh. Kau telah membunuh bapakku, demikian ucapku. Tapi kau mengelak. Sambil menangis kau mengatakan, “Bukan aku yang membunuh bapakmu. Tapi dia datang ke sini untuk mati!”
Aku melihat wajah pucat dan tubuh bapak yang telah terbaring kaku. Sedang kau, sibuk mencoba membangunkan bapakku yang sudah mati. Setelah itu kau mengangis sedih sekali. Aku melihat cinta dalam tangis itu. Tapi, mengapa kau tak pernah memelukku. Sampai, ketika pisau kecil itu kau tujukan kejantungmu. Aku pun tak pernah tahu apakah kau mencintaiku? Apakah kau menganggap aku sebagai anakmu.
Aku yakin bapak telah tenang di sana. Tapi, apa kau juga demikian? Sepertinya kau tak pernah tenang. Tapi, apapun itu. Kau tetap orang yang telah melahirkanku. Kau tetap emakku. Aku mencintamu seperti abah mencintaku dan juga mencintamu.
Emak, aku pamit dulu. Lebaran nanti, aku akan kembali ke sini. Kelak, jika aku meninggal, aku ingin dibaringkan di sampingmu dan bapak. Semoga kalian berdua selalu dalam ampunan tuhan. Selamat lebaran bapak dan emakku. Aku mohon maaf karena tak sempat singgah lebaran yang lalu.
Banda Aceh, November 2009
Akmal M. Roem lahir di Lam U, Aceh Besar. Saat ini bekerja sebagai penulis lepas dan pengurus ruang seni di Episentrum Ulee Kareng, Aceh
Suara itu masih ada di sini. Itu suaramu, emak. Jelas sekali aku mendengar itu keluar dari mulutmu. Kata-kata itu hinggap dalam ingatanku. Aku tak akan pernah mungkin melupakanya.
Sebelumnya, aku mendengar bapak berteriak keras sekali. Teriakan yang keluar memenuhi ruang hampa kamarku. Rumah yang sebelumnya sunyi, sekejap menjadi bising oleh keramaian orang-orang melayat. Mereka ingin melihat jenzah bapakku yang kau bunuh, emak. Aku sangka demikian. Hanya kau yang ada dalam ruangan itu. Sesaat setelah kalian bertengkar hebat. Tiba-tiba bapak berteriak dengan keras sekali. Bapak mati!
Dengan nafas beringas, kau keluar dari kamari itu. Wajahmu terlihat pucat basi. Seperti menyimpan ketakutan yang maha besar. Tapi kau tidak berbicara sedikitpun. Aku melihat raut wajah yang tidak mengenakkan. Aku terjebak di sana. Keringat yang sedikit-sedikit mengalir dari dalam rambutmu menenggalamkanku dalam satu cerita tentang pembunuhan yang kau susun rapi demikian.
***
Malam itu, bulan setengah mati. Aku dan bapak sedang asyik bercerita tentang nama-nama kampung di sini. Bapak suka menerka yang bukan-bukan. Ia ceritakan tentang sejarah nama-nama kampung. Tapi, semuanya tak ada yang benar. Kurasakan seperti itu. Aku dibikinnya tertawa lepas. Bapak orang yang sangat lucu. Ketika ia bercerita, wajahnya terlihat serius sekali. Sampai-sampai aku pernah yakin ketika dia bilang bisa berjalan di atas air. Tapi, setelah dia tertawa, akupun tak percaya kalau orang-orang bisa berjalan di atas air. Bapak juga demikian, dia tak percaya. Hanya saja, dia mau bercerita banyak agar aku tidak teringat pada emak yang selalu tak sempat menemani kami bercerita.
Kau ingat, emak. Saat itu kau pulang larut malam sekali. Bapak menyimpan marah dalam hatinya. Ia tak mau menyerangmu dengan pertanyaan-pertanyaan yang kau anggap konyol itu. Bapak begitu mencintai kedamaian. Dia tidak pernah berharap untuk membikin rumah bising dengan teriakan-teriakan yang tak berguna itu. Tapi, kenapa kau tak pernah sadar. Kenapa kau selalu bikin bapak menyimpan dendam. Bukankah dengan cinta aku bisa kau lahirkan?
Saat itu, aku langsung pergi ke kamarku. Menyendiri dan menjauh dari mangsa beringasmu. Aku begitu takut karena kau pulang dengan wangi tak sedap. Aroma alkohol ada di mana-mana. Bau yang keluar dari mulutmu hinggap di ruang tamu rumah kita, di asbak rokok, di sofa dan tempat kau campakkan baju yang kau gunakan untuk menutupi tubuhmu yang mungil itu. Tubuh yang telah kau jual dengan harga yang bisa di tawar.
Seberapa paham kau dengan kegundahan yang dirasakan bapak? Hingga kau tak pernah mengenal caranya berbicara. Kau selalu membenarkan diri, emak. Kau tipu kami dengan kedok bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Aku tak pernah menyalahkan bapak yang tak pernah memilki pekerjaan yang tetap. Tapi, betapa indahnya senyum bapak ketika pulang ke rumah meski hanya membawakan segenggam beras untuk dimasak.
Tapi, tidak dengan kau. Kau pergi ketika matahari sedang diusir malam. Tak kau hiraukan suara tilawah yang dikumandangkan dari surau tepat di depan rumah kita. Bahkan aku lihat kau mengacuhkan saran bapak agar kau pergi setelah langit tampak gelap. Sialan, kau bilang kau malas mencium bau bapak yang tak sedap itu.
Siapa sangka bibir tipismu itu telah menjadi racun bagi bapak. Emak, kau tutupi rupa aslimu dengan bedak dan perias lainnya. Kau tampak cantik sekali ketika malam hari. Tapi, sayang sekali, aku tak pernah melihat kecantikan itu kau peruntukan bagi bapakku yang malang. Dengan sengaja kau rias diri untuk mereka yang bajingan itu. Mereka yang selalu menikmati setiap keindahan yang kau miliki.
Sebelum kau pulang, bapak selalu menyempatkan diri duduk di teras. Dia menunggu kepulanganmu. Kadang-kadang, aku menemani kesendiriannya. Biasanya bapak mau jika aku temani. Bahkan, ia akan menceritakan tentang kisah cinta yang kalian alami semasa remaja. Bapak tak pernah malu menyimpan rahasia padaku. Meski kadang raut wajah merah jelas dia tampakkan padaku. Tapi, aku setia mendengar cerita-cerita itu. Ia begitu bersemangat sampai-sampai aku dibikin tidur dalam pangkuannya. Dan, ketika pagi menjelang, kau tak kunjung pulang. Bapak begitu gelisah. Kau tak pernah merasakannya, bukan?
Bapak tak bisa menghubungimu. Telepon genggammu mati. Dia menyuruhku untuk bergegas pergi ke sekolah. Sedang dia menunggu kepulanganmu. Aku pun menuruti kemauannya. Aku tak ingin membuat dia sedih seperti yang telah kau lakukan padanya. Tidakkah kau membayangkan betapa sudah keringnya air mata bapak. Dia selalu mencintamu, emak. Selalu. Aku tahu dia tak akan pernah menjadikan emak sebagai musuh apalagi untuk diburu dan dibunuh. Tapi, mengapa kau tak pernah sadar akan cintanya, emak?
***
Aku ingat sekali kata bapak tentangmu. “Cintailah emak mu, Agam. Kau akan merasakan hal yang paling bahagia di sana. Meskipun dia tidak pernah sadar akan cinta yang telah kita tampakkan. Tapi, kita harus yakin pada cinta kita agar suatu hari emak tahu bahwa kita begitu mencintanya.” serupa itulah kata bapak untukku. Dia selalu menginginkan aku mencintai dan menyayangi emak.
Waktu kau pulang ke rumah, malam itu. Aku mengintip dari lubang pintu yan kubuat. Aku mendengar perkataan ayah untukmu. Semuanya kudengar dan masih kuingat sampai sekarang. Saat itu, bapak menasehatimu agar lebih memperhatikan keluarga kita. Tapi, kau menyangkalnya. Kau menyalahkan bapak yang tidak memiliki perkerjaan tetap sepertimu. Kau mengatakan bapak seorang pemalas. Dia marah bukan. Aku melihatnya, emak. Tapi, rupa marah bapak itu tidak benar. Dia hanya ingin meyakinkan agar kau tak lagi bekerja seperti itu. Dia ingin kau lebih sering di rumah ketimbang harus bergaul dengan malam yang aneh itu. Kau kembali menyalahkan bapak. Katamu, bapak itu seorang yang tak berguna karena tak bisa memberikan apa yang kau minta.
Aku melihat bapak menarik kau ke dalam kamar. Kalian bertengkar hebat sekali. Aku tak tahu persisnya kenapa. Yang kudengar kalian seling berteriak dan tidak mau mengalah. Kau terlalu keras untuk dinasehati. Sedang bapak, terus berusaha membuatmu bisa mematuhi apa yang menjadi keinginannya.
Tiba-tiba bapak berteriak keras sekali. Setelah itu, semua menjadi diam. Aku takut dan gelisah. Aku mencoba mendekati kamar kalian agar bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, aku tak berani melakukannya. Aku takut kau dan bapak marah padaku. Maka aku putuskan untuk diam diri sembari menunggu kau dan bapak keluar dari kamar.
Lama sudah tak ku dengar suara bapak. Kau pun demikian. Diam, tanpa suara apapun di sana. Aku semakin gelisah. Hatiku merasa sangat ketakutan sekali. Ada yang aneh di sana. Aku pun memutuskan untuk keluar dari kamarku dan mendorong pintu kamar kalian. Aku begitu terkejut dan sepertinya tak bisa kupercaya. Kau memegang pisau yang tertancap di dada bapak. Darah bapak membalut baju dan tubuhmu. Kau pembunuh. Kau telah membunuh bapakku, demikian ucapku. Tapi kau mengelak. Sambil menangis kau mengatakan, “Bukan aku yang membunuh bapakmu. Tapi dia datang ke sini untuk mati!”
Aku melihat wajah pucat dan tubuh bapak yang telah terbaring kaku. Sedang kau, sibuk mencoba membangunkan bapakku yang sudah mati. Setelah itu kau mengangis sedih sekali. Aku melihat cinta dalam tangis itu. Tapi, mengapa kau tak pernah memelukku. Sampai, ketika pisau kecil itu kau tujukan kejantungmu. Aku pun tak pernah tahu apakah kau mencintaiku? Apakah kau menganggap aku sebagai anakmu.
Aku yakin bapak telah tenang di sana. Tapi, apa kau juga demikian? Sepertinya kau tak pernah tenang. Tapi, apapun itu. Kau tetap orang yang telah melahirkanku. Kau tetap emakku. Aku mencintamu seperti abah mencintaku dan juga mencintamu.
Emak, aku pamit dulu. Lebaran nanti, aku akan kembali ke sini. Kelak, jika aku meninggal, aku ingin dibaringkan di sampingmu dan bapak. Semoga kalian berdua selalu dalam ampunan tuhan. Selamat lebaran bapak dan emakku. Aku mohon maaf karena tak sempat singgah lebaran yang lalu.
Banda Aceh, November 2009
Akmal M. Roem lahir di Lam U, Aceh Besar. Saat ini bekerja sebagai penulis lepas dan pengurus ruang seni di Episentrum Ulee Kareng, Aceh
Subscribe to:
Posts (Atom)